INI DIA POLISI TERBAIK INDONESIA YANG JUJUR DAN BERANI TAPI HARUS RELA PENSIUN DINI DAN HIDUP SUSAH..

Layarmaya.id - Tokoh yang satu ini ternyata tidak awam bagi Kebanyakan orang, khususnya di kaum milenial. Siapakah beliau beliau adalah Hoegeng Imam Santoso seorang tokoh besar Kepolisian Republik Indonesia, Hoegeng pernah menjabat sebagai Kapolri kelima yang dilantik pada 5.mei 1968. 

Lalu namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit yaitu Rumah Sakit Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso yang berada di Mamuju. Sebelum menjadi Kapolri dirinya juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Negara Republik Indonesia pada zaman Presiden Soekarno.

Nama beliau menjadi besar terus dikenang bahkan menjadi panutan para anggota Polisi Republik Indonesia, sosok yang satu ini terkenal akan keberaniannya kejujurannya dan kesederhanaannya. Bahkan almarhum Gus Dur pernah berkomentar kalau di Indonesia hanya ada tiga polisi jujur yaitu polisi tidur, patung polisi dan Hoegeng

Di masa jabatannya sebagai Kapolri Jenderal Hoegeng melakukan pembenahan di berbagai bidang, salah satunya struktur organisasi di Mabes Polri. Di bawah kepemimpinan beliau mengusung struktur yang baru dan lebih terlihat dinamis serta komunikatif. 

Jika pada zaman Orde Baru sangat akrab ditelinga kita istilah hukum tajam kebawah dan tumpul ke atas, itu tidak berlaku ketika Jenderal Hoegeng memimpin Kepolisian Republik Indonesia. Siapapun pelaku kejahatannya tidak akan berkutik dan akan diproses sebagaimana mestinya. Namun sikap bersih jujur dan berani inilah yang membuat Jenderal kelahiran Pekalongan 14 oktober 1921 tidak disukai beberapa pihak Jenderal. 

Jenderal Hoegeng harus melepas jabatan Kapolri lebih cepat karena jabatannya dicopot ditengah jalan pada dua October 1971. Selama karirnya Jenderal Hoegeng pernah mengungkap dan menangani kasus-kasus yang terkait orang-orang penting di Indonesia, yang paling dikenal adalah kasus Sum Kuning.

Kasus Sum Kuning adalah kasus tindak kriminal pemerkosaan terhadap seorang penjual telur bernama Sumarijem, pada tanggal 21 September 1970 Mbak Sum diseret paksa oleh sejumlah pria kedalam sebuah mobil kemudian dibius setelahnya diperkosa, di sekitar wilayah Klaten secara bergilir.

Puas melampiaskan nafsu birahi sejumlah pria ini langsung menelantarkan Mbak Sum di pinggir jalan, Mbak Sum pun melaporkan kejadian ini ke kantor polisi. Namun setelah pelaporannya tersebut. Mbak Sum justru diserang balik oleh pihak penguasa, tidak lama kemudian malah wanita 18 tahun ini yang dijadikan tersangka dengan tuduhan memberikan laporan palsu. 

Ketika wartawan mulai memberitakan kasus tersebut, muncul tudingan yang menyebutkan bahwa Mbah Sum adalah anggota gerakan wanita Indonesia atau Gerwani yaitu kelompok organisasi di bawah naungan PKI. Lagi-lagi sebuah stigma yang biasa pada zaman Orde Baru untuk menghilangkan simpati masyarakat, target harus dikaitkan dengan hal-hal yang berbau dengan PKI

Selang beberapa lama polisi mempublikasikan pelaku pemerkosaan Mbak Sum yaitu seorang pria yang bernama Trimo pekerjaannya sebagai penjual bakso tapi Trimo ini bersikukuh bahwa ia bukanlah pelakunya dan Mbak Sum pun yakin bahwa bukan Trimo yang memperkosanya. 

Ternyata selama di tahanan, Mbak Sum mendapat penganiayaan dan dipaksa mengakui kalau pelaku pemerkosaan nya adalah Trimo. Begitupun dengan Trimo ia mengalami hal yang serupa ia dipaksa mengaku bahwa telah memperkosa Mbak Sum. Wartawan yang mencoba meliput dan menulis kasus sum kuning ini harus berurusan dengan pihak pihak militer. 

Melihat peliknya kasus tersebut Jenderal hoegeng pun turun tangan setelah Mbak Sum dibebaskan, Jenderal Hoegeng memerintahkan Komjen Suroso mencari orang yang mengetahui fakta dibalik pemerkosaan Mbak Sum. Ia bahkan membentuk tim khusus yaitu tim pemeriksaan sum kuning, akibatnya kasus ini semakin menjadi sorotan media massa waktu itu. 

Berdasarkan temuan-temuan tersiar pula kabar bahwa pelakunya adalah sejumlah anak pejabat dan anak seorang pahlawan revolusi, namun mereka tetap membantah tuduhan tersebut. Presiden Soeharto pun akhirnya ikut ambil langkah kasus ini yang dinilai mengguncang stabilitas nasional. Akhirnya Soeharto memerintahkan untuk menghentikan kasus ini dan menyerahkannya ke tim pemeriksaan pusat komp dan kita tahu endingnya. 

Seperti apa kasus menghebohkan lainnya adalah kasus penyelundupan mobil mewah bernilai miliaran rupiah yang melibatkan Robby Cahyadi. Ia adalah orang yang dikenal dekat dengan keluarga Presiden Soeharto, berkat jaminan pengusaha ini hanya beberapa jam saja mendekam ditahanan. Saking berkuasanya si penjamin sampai-sampai Kejaksaan di Jakarta pun menghentikan kasus ini tapi meski begitu Jenderal hoegeng tidaklah Gentar di dalam kasus penyelundupan mobil mewah. 

Berikutnya Robby dibuat tidak berkutik, tentu saja dalam kasus ini Robby tidak bermain sendiri tapi juga melibatkan pejabat-pejabat dan Perwira tinggi ABRI bahkan pejabat-pejabat tersebut yang telah terbukti menerima sogokan turut ditangkap dan ditahan menurut hasil penelusuran berbagai pakar. 

Jenderal Hoegeng dicopot dari Kapolri karena sikap kerasnya memberantas penyelundupan mobil mewah ini dan juga keberaniannya dalam menangani kasus sum kuning. Pemberhentian Jenderal Hoegeng dari jabatannya dan pensiun dini. 

Di umur yang masih produktif tentu menimbulkan sejumlah tanda tanya besar apalagi karena masa jabatannya sebagai Kapolri saat itu masih belum abis, ditambah lagi Jenderal yang sangat populer di kalangan wartawan dan masyarakat yang lagi gencar-gencarnya melakukan pembersihan di jajaran Kepolisian. 

Kabar pencopotan itu diterima Jenderal Hoegeng secara mendadak kemudian ditawarkan Soeharto untuk menjadi duta besar di sebuah negara di Eropa namun Jenderal hugeng menolak, alasannya karena ia adalah seorang polisi bukan politisi. Jenderal Hoegeng diberhentikan dari jabatannya sebagai Kapolri pada 2 October 1971 dan kemudian ia digantikan oleh komisaris jenderal Polisi Drs Muhammad Hasan

Setelah dicopot Jenderal Hoegeng langsung menghampiri sang Ibu sambil bersimpuh ia berkata Saya tidak punya pekerjaan lagi Bu dengan tenang ibunya pun menjawab Kalau kamu jujur dalam langkah kami masih bisa makan walau hanya dengan nasi dan garam. Momen haru itu dituliskan dalam buku Hoegeng polisi dan menteri teladan. 

Akhirnya Sang Jenderal pun tak bisa lagi beraksi memberantas kejahatan ia bahkan harus hidup susah selama bertahun-tahun pengabdian yang penuh ikhlas dan bersih tentu membawa konsekuensi bagi hidupnya. lebih hari sekali waktu setelah berhenti dari Kepala Kepolisian dan pensiunnya masih diproses ia tidak tahu apa yang masih bisa dimakan untuk keluarganya karena di rumah beras sudah habis. 

Kalau kita mengira seorang jenderal purnawirawan petinggi polisi akan hidup enak mapan bahkan hidup dengan keadaan mewah setelah mereka pensiun itu tidak terjadi dengan Jendral Hoegeng dari mulai pensiun sampai dengan tahun 2001. Upah pensiunan Jenderal hoegeng yang memiliki ketulusan dan loyalitas yang tinggi untuk negara itu hanya sebesar Rp10.000 saja itupun yang diterima hanya Rp.7500. Baru pada 2001 gaji pensiunan Jenderal Hoegeng naik dari 10.000 menjadi 1.170.000 Rupiah.

Semasa aktif di kepolisian Jenderal hoegeng selalu konsisten menjaga integritasnya sebagai seorang polisi terima suap atau gratifikasi tidak ada di kamusnya. Jenderal jujur yang satu ini pun mengajarkan kedisiplinan dan arti jurang kepada keluarganya, seluruh keluarganya dilarang menerima apapun dari orang-orang yang punya kepentingan dengan dirinya dan juga tidak boleh menggunakan berbagai fasilitas. 

Sebagai keluarga Kapolri pernah suatu ketika anak hoegeng mendambakan sebuah motor dan kebetulan sebuah perusahaan motor memberikan dua unit motor keluaran terbaru kerumah beliau sebagai jatah Kapolri alasannya. Tapi tanpa pikir panjang Jenderal Sugeng langsung meminta ajudannya untuk mengembalikan kedua motor tersebut kepada pemiliknya. 

Jadi tidak heran kalau beliau pensiun tidak memiliki rumah pribadi apalagi sebuah mobil Jendral, atas kebaikan Kapolri penggantinya, rumah dinas di kawasan Menteng Jakarta Pusat diberikan untuk keluarga hoegeng. Tentu saja keluarga hugeng mengisi rumah itu setelah seluruh perabotan, inventaris kantor ia kembalikan semuanya. 

Sahabat-sahabatnya yang menjabat sebagai Kapolda di berbagai wilayah melakukan saweran untuknya, hanya sebuah mobil untuk kendaraannya sehari-hari. Di masa pensiun ia menekuni hobinya bermain musik dan melukis hasil dari hobi beliaulah yang menjadi sumber untuk menafkahi keluarganya. Sempat tampil di TVRI beberapa tahun dan juga mengisi acara di Stasiun Radio namun pada tahun 1980 lagi-lagi ia terpaksa berhenti, Kali ini pemerintah mencekalnya karena dianggap terlibat dalam Petisi 50

Petisi 50 adalah sebuah dokumen yang ditandatangani 50 tokoh besar Indonesia yang isinya memprotes penggunaan Filsafat Pancasila oleh Presiden Soeharto, saat itu Presiden Soeharto menganggap setiap kritik terhadap dirinya berarti sama dengan kritik terhadap ideologi negara Pancasila dan kelima puluh tokoh besar Indonesia itu menilai bahwa presiden Soeharto menggunakan Pancasila sebagai alat untuk mengancam musuh-musuh politiknya. 

Pada 14 Juli 2004 Jenderal hoegeng Imam Santoso meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta dan usia yang ke-83 tahun ia meninggal karena penyakit stroke dan jantung yang dideritanya. Sosok Jenderal Sugeng menjadi sosok polisi bagi masyarakat Indonesia yang selalu menegakkan kejujuran, keberanian dan kesederhanaan beliau ditengah kondisi pemerintahan saat itu. 

Baginya keadilan harus tetap ditegakkan apapun kondisinya dan siapapun pelakunya, berani untuk tidak tebang pilih di tengah kondisi yang saat itu hukum sangat tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Tentu saja hal itu haruslah menjadi panutan terutama untuk para polisi-polisi muda Indonesia, karena rakyat Indonesia begitu merindukan sosok seperti Jendral hoegeng

Demikian sedikit perjalanan seorang jenderal polisi terbaik di Indonesia, semoga kedepannya Indonesia memiliki banyak lagi sosok hugeng di Kepolisian Indonesia.))